Monday, September 10, 2018

"Hinaan Dan Pujian" Jadikanlah Hinaan Sebuah Motivasi Untuk Memperbaiki Diri

Pernahkan kamu dihina sampai hati terasa remuk redam berkeping-keping?, dan apakah pernah kamu dipuji sampai terasa terbang tinggi ke atas awan?. Kita manusia hidup di dunia sosial, berinteraksi dengan banyak orang yang masing-masing punya penilaian atas diri kita. Apa yang kita lakukkan membuahkan berbagai macam tanggapan dari orang lain. Bisa berupa hinaan dan bisa juga berupa pujian.

Beberapa waktu lalu saya melihat teman saya mendapat serentetan isu negatif, Untuk masalah benar atau tidaknya hanya tuhan yang tau, Tapi saya dapat suatu pelajaran yang sangat berharga dari isu itu adalah :
"Hinaan tidak membuat diri kita lebih buruk, pujian tidak membuat diri kita lebih baik, Kecuali kita mengizinnkanya".

Siapapun tidak akan bisa menghinakan diri kita, kecuali kita mengizinkan dia untuk membuat kita merasa diri kita hina. Kita sendirilah yang mempunyai kuasa membuat diri kita menjadi lebih buruk, bukan dia. Misalnya, jika ada rival kita di kompetisi yang berkata "kamu bodoh" tidak serta merta IQ kita menjadi turun kan?. Tapi kita bisa benar-benar menjadi lebih bodoh jika membiarkannya meracuni pikiran kita. Kita akan jadi merasa minder, tidak percaya diri, grogi dan tidak bisa tampil maksimal sehingga menjadikan kita kalah sebelum perang dalam kompetisi.

Sama halnya dengan pujian yang sering kali membuat kita terlena. Pujian tampaknya positif, tapi akibatnya bisa merugikan. Contonya sepertini ini "kamu memang orang yang sangat baik hati" mungkin saja pujian itu membuat kita senyum-senyum sendiri dan berpuas diri bahwa diri kita sudah sangat baik hati sehingga kita akan lupa diri dan tidak mengamalkan kebaikan kita lagi.

Kadang juga sebuah pujian itu lebih mengandung unsur kebohongan, dijaman sekarang ini jarang banget orang yang tulus dalam berbagai hal, termasuk memuji, kadang seseorang memuji orang lain dengan maksud tertentu dari orang yang di puji itu dan hanya untuk membuat orang itu senang. Makanya jangan kita cepat terlena dengan pujian yang berlebihan.

Begitupula dengan hinaan, hinaan lebih mengandung unsur kejujuran walapun itu kadang menyakitkan bagi kita tapi itulah yang sebenarnya, dan jadikanlah hinaan itu untuk motivasi diri kita agar kita bisa lebih baik dari apa yang mereka katakan kepada kita. Dan juga kita bisa anggap sebagai tangtangan untuk ditaklukkan, yang membuat kita lebih bersemangat dalam berusaha. Hinaan juga lebih melatih kesabaran diri.
Menghadapi hinaan dan pujian, ada kalanya kita perlu membuka telinga lebar-lebar. Kita berusaha menerima feedbak dari orang lain semanis dan sepahit apapun sebagai bekal proses pendewasaan diri. Namun ada kalnya juga kita perlu menutup telinga rapat-rapat, memfilter hal-hal yang tidak perlu kita dengar sehingga mempengaruhi perbaikan diri yang kita usahakan. Tidak perlu risau dengan apa yang dikatakan orang, "Lebih penting baik di mata tuhan daripada sekedar baik dimata manusia".

Tuhan juga memberi kita keleluasan memilih menjadi orang yang progresif, terus berusaha menjadi lebih baik, atau menjadi orang yang mundur. Jadi siapapun hanya bisa berkata apapun semaunya, tapi pengaruhnya pada diri kita tetap dengan seizin kita.

Terimakasih.

No comments:
Write comments